Sunday, September 5, 2010 19:22 WIB

Edy Sukarjono, Warga Wonoasri, Caruban, yang Kembangbiakkan Labet dan Jalak Uren

Oleh web admin pada Saturday, March 20, 2010, 19:40
Kategori Profil ada 0 Tanggapan .

Bagaimana mengubah blog WordPress menjadi MESIN UANG yang MEMATIKAN !! Tutorial komplit dilengkapi Software dan Script Siap Pakai SEO Complete Guide for Wordpress Instant Internet Business Ideas

Hobi yang menjadi sumber penghasilan. Itulah yang dijalani Edy Sukarjono, warga Desa Purwosari, Wonoasri, Kabupaten Madiun. Dia mengembangbiakkan burung labet dan jalak uren sejak lima tahun terakhir. Kini, pendapatannya perbulan mencapai Rp 5 juta – Rp 6 juta.

Hawa panas begitu terasa saat berada di salah satu ruangan di rumah Edy Sukarjono. Siang kemarin, langit begitu terang, tak ada mendung. Buliran keringat begitu cepat keluar dari pori-pori kulit. Maklum, atap ruangan yang khusus jadi kandang itu berbahan asbes. Tapi, Edy seolah seolah tidak peduli. Dengan telaten, dia mencermati sekitar 80 ekor burung yang dikembangbiakannya selama ini.

Kicauan burung labet dan jalak uren bersahutan tiada henti. Saking banyaknya, kandang disekat rapi. Ruangan khusus itu ada di belakang rumah Edy Sukarjono. Luasnya sekitar 50 meter persegi. ”Ruangan ini saya sediakan untuk budidaya burung,” kata pria 49 tahun itu, sambil benah-benah, kemarin.

Aktivitas di dalam kandang burung sudah dijalani selama lima tahun ini. Februari 2005 lalu, staf kantor Kecamatan Mejayan itu memutuskan mengembakbiakkan tiga jenis burung. Salah satu alasannya, mencari uang tambahan. Sebab, gaji jadi PNS dan hasil usaha membuka toko pracangan istrinya, Endah Supriyati, dirasa masih kurang. Apalagi, saat itu anak pertamanya mulai masuk kuliah.

Mulai menjalankan usaha, bapak dari dua anak itu mengeluarkan modal sekitar Rp 80 juta. Uang itu, untuk membuat bangunan, pembuatan kandang dan pembelian bibit burung di Solo. Niatan itu tidak begitu saja dipilih. Sebelumnya, Edy sudah menekuni hobi memelihara burung. Pengetahuannya tentang pemeliharaan burung tidak diragukan lagi.

Setiap pukul 05.00-06.00 WIB, bisa dipastikan Edy berada di kandang menyiapkan pakan burung. Aktivitas itu dilakukannya sebelum berangkat ke kantor. Sore hari Edy juga ada di kandang. Dia membersihkan kandang dan memberi tambahan minum untuk burung.

Biaya membeli pakan membutuhkan uang yang tidak sedikit. Rata-rata setiap bulannya Edy mengeluarkan uang Rp 1,3 juta. Itu, untuk pembelian makanan burung pabrikan, kangkung, jagung dan jangkrik. ”Untuk burung labet saya kasih makan jagung dan kangkung. Sedangkan untuk cucak rowo dikasih jangkrik. Itu untuk kualitas suara burung,” jelasnya.

Bagaimana dengan penjualan burung? Edy memanfaatkan hubungan sesama penghobi burung. Informasi secara getok tular membuat nama pria asli desa itu semakin dikenal. Terutama, komunitas penghobi burung yang sering nongkrong di pasar burung Caruban. ”Teman sesama penghobi burung saya banyak dan saling tukar informasi,” ujar pria berkumis tipis itu.

Pembelinya pun berasal dari rumah kota hingga Kalimantan. Mereka datang langsung ke rumah Edy di Dusun Manding, Desa Purwoasari. Kini, rata-rata jumlah burung yang terjual sebanyak 30 ekor dalam sebulan. Untuk jenis labet terjual 15 ekor dan jalak uren 15 ekor. Sedangkan, omzet yang dikantonginya bisa mencapai Rp 5 – Rp 6 juta perbulan. ”Melihat musimnya saja. Kalau sekarang yang lagi in (ramai, Red) jenis labet,” terangnya.

Harga perpasang anakan burung labet berkisar Rp 300 – Rp 800 ribu. Patokan harga itu, ditentukan dari warna. Untuk warna hijau dan biru harga perpasangnya Rp 300 ribu. Sedangkan, yang berwarna pastel kekuningan lebih mahal lagi, perpasang Rp 550 ribu. Dan, yang termahal dari jenis labet tutino mata hitam. Saat ini, hasil pengembangbiakannya sudah banyak terjual. ”Biasanya di kandang lebih dari seratus ekor,” tambahnya.

Usaha ternak burung sudah menjadi salah satu sumber penghasilan bagi keluarga Edy. Ketiga anggota keluarganya juga ketularan hobi dengan burung. Malahan, saat berjualan Endah Supriyati, istrinya membawanya ke pasar Caruban. Terutama saat masih anakan, karena untuk memberi makan harus disuap atau diloloh.

JPNN

Incoming search terms for the article:

pasar burung caruban,manding caruban,cara kembang biak kan jangkrik,harga burung caruban,jalak uren,contoh pembuatankandang ternak cucakrowo,Caruban 2010,kandang jangkrik,kota caruban,burung labet



Beri Tanggapan