Monday, February 6, 2012 13:10 WIB


cara diet sehat


Sumarji, Warga Desa Sidorejo, Saradan, Temukan Lingga-Yoni

Oleh pada Thursday, March 11, 2010, 6:50

cara diet sehat

Warga Dusun Jumbang Betek, Desa Sidorejo, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun kembali menemukan benda purbakala. Kali ini berbentuk lingga-yoni. Sebelumnya, di lokasi yang sama, ditemukan arca jalawadara.

Sumarji memanggul lingga-yoni keluar dari kediamannya. Pria 30 tahun itu berjalan kaki menuju rumah Suwito yang berjarak sekitar 500 meter dari rumahnya. Maksudnya, meletakkan benda yang ditemukannya itu jadi satu dengan jalawadara. Beberapa warga pun mengikuti langkah bapak dua anak tersebut.

Tetapi Sumardji berhenti di pinggir kali barang sejenak. Dia menunjukkan lokasi ditemukannya lingga-yoni. Ternyata, tidak jauh dari letak jalawadara yang ditemukan Jamal Syaifudin, 40, warga Desa Klumutan, Saradan, Rabu (10/2) lalu. Jaraknya, hanya sekitar 50 meter.

Penemuan oleh Sumarji bukan hal yang disengaja. Jumat (5/3) sekitar pukul 14.00 WIB dia mandi di kali yang berhulu di Gunung Pandan, Bojonegoro itu. Lantaran, badannya penuh lumpur setelah menggarap sawah. Sambil membersihkan badan, dia mendulang emas. Tangannya bergerak-gerak mengambil pasir dan diangkatnya ke alat penyaring.

Ketika aktivitas itu berlangsung, dia sempat kaget saat tangannya memegang benda keras. Sumarji merasakan ada bentuk yang tidak lazim. Penasaran, dia pun mengangkatnya. Satu-dua kali mencoba tidak berhasil. Upaya pun terus dilakukan dan benda itu pun berhasil diangkat. ”Waktu mengeduk pasir tangan saya menyenggol batu ini. Posisinya tertidur (melintang, Red),” kata pria itu di pinggir kali.

Setelah di atas permukaan air, batu itu terus dipandanginya. Bentuknya aneh, kotak memanjang dan ada motifnya. Tidak berselang lama, warga yang juga berada di kali mengetahui penemuan itu. Seorang di antara mereka memberitahu ke perangkat desa. Sementara yang lainnya membawa benda itu ke rumah Sumarji.

Lingga-yoni itu selama tiga hari disimpan di rumah Sumarji. Tetapi, muncul inisiatif menyimpannya jadi satu dengan jalawadara di rumah Suwito. Lantaran, warga setempat berencana membuat tempat khusus bagi kedua benda purbakala itu. Lokasinya, di arel kali atau lokasi penemuan.

Kini, kedua benda terbuat dari batu adhesit itu masih tersimpan di rumah Suwito. Si pemilik rumah memberikan tempat tersendiri. Ruang penyimpanannya disekat dengan kain berwarna putih. Tujuannya, agar tidak dibuat mainan anak-anak kecil. ”Ini aset desa ini dan warga ingin tetap berada di sini. Maka, akan dibuat tempat seperti museum,” kata Sumarji, setelah meletakkan lingga-yoni di samping jalawadara.

Diketahui, tingginya 38 centimeter dan lebarnya 20 centimeter. Sedangkan, beratnya sekitar lima kilogram. Saat ini, warga secara swadaya mulai mengumpulkan uang. Setiap kepala keluarga (KK) akan menyumbangkan dana sebesar Rp 20 ribu. Jika dihitung, dana yang akan terkumpul Rp 6,5 juta, dari 350 kepala keluarga. Bahkan, sumbangan dari donatur berupa pasir dan batu sudah berada di dekat lokasi.

Rencana pembangunannya setelah musim hujan berlalu. Bangunan itu akan ditempatkan di atas kali. Upaya koordinasi dengan pihak dinas purbakala di Trowulan, Mojokerto pun sudah dilakukan. ”Kami siap menjaga kemanan dari benda itu,” kata Budi Purwanto, ketua LPKMD setempat.

Tak pelak, penemuan lingga-yoni itu mengundang perhatian dari pengurus situs Mangirejo di wilayah Kabupaten Madiun. Saat pemindahan benda purbakala itu Joko Widodo juga mendatangi rumah Suwito. Pria itu sempat memperhatikan benda yang baru ditemukan tersebut. ”Ini jenis lingga-yoni yang dulunya untuk pemujaan,” terangnya.

Tapi, benda itu sudah patah. Seharusnya, bentuknya menyerupai tugu. Prediksi itu, juga dipertegas adanya bekas patahan di bawah lingga-yoni. ”Jenis batunya adhesit. Ini identik dengan peninggalan kerajaan Majapahit abad 14-16 SM,” jelasnya.

Selain itu, benda purbakala yang baru ditemukan itu memiliki kesamaan dengan candi di Desa Sebayi, Gemarang. Khususnya, dari batu bahan pembuatnya. Maka, Joko menilai lingga-yoni itu asli dari Gemarang. ”Sampainya ke sini mungkin terseret arus sungai,” jelasnya.

JPNN

Baca juga :

gunung pandan bojonegoro, arca lingga yoni, sejarah kedungbenda, Sejarah gunung pandan, keadaan ekonomi pedesaan

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • Digg
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS

cara diet sehat



Komentar :