Perajin batik di Kabupaten Madiun mendapat perhatian dari istri Gubernur Jatim, Nina Kirana Soekarwo. Kemarin, Ketua Tim Penggerak PKK Jatim itu mengunjungi produsen batik di Desa Kenongorejo, Pilangkenceng. ”Pemprov akan memfasilitasi untuk pameran ke tingkat nasional,” ujar Nina Soekarwo, kemarin.
Batik, menurutnya, merupakan budaya nasional yang harus dilestarikan. Khususnya, batik tulis. Salah satu langkahnya, pemprov akan menggelar pameran dan lomba desain batik yang diikuti 38 Kabupaten/Kota se-Jatim. Apalagi, di Jatim sudah mempunyai 1.300 motif batik khas. ”Agar batik tulis tetap lestasi dan jangan sampai berpindah ke printing,” tambahnya.
Ketua Tim PKK Kabupaten Madiun Sri Purwanti Muhtarom menambahkan, salah satu langkah yang akan dilakukan dengan menggelar lomba desain motif. Rencananya, kegiatan itu dilakukan akhir Mei mendatang. Salah satu alasannya, motif batik Kenongo dari Desa Kenongorejo yang dulu menjadi khas, sudah mulai pudar.
Memudarnya motif batik Kenongo diakui Subiyono, seorang perajin dan desainer motif batik di Desa Kenongorejo. Realita itu, katanya, berbeda dengan kondisi di tahun 1960-1970-an. Kala itu, tiap bulannya batik yang dihasilkan mencapai 6.000 lembar jenis tulis dan cap. Tetapi, saat ini rata-rata hanya mencapai 800 meter tiap bulan. ”Maka perlu ada regenerasi, kini perempuan berusia di bawah 30 tahun tidak bisa membatik,” ungkapnya.
Penyebab turunnya produksi batik, lanjutnya, karena kebutuhan mengenakan kain panjang bagi para perempuan juga berkurang. Maka, Subiyono berharap, batik Kenongorejo bisa kembali menjadi ikon Kabupaten Madiun. Salah satu yang harus dilakukan pemkab, katanya, dengan mengenalkan batik tulis ke para pelajar.
JPNN